Suatu ketika pada saat teman-teman sekelas mengadakan acara
di salah satu rumah makan di Gunungkidul, sebut saja Simo, dan memang itu nama
tempatnya tiba-tiba HT yang selalu saya
bawa itu berbunyi “ttsst...”, tapi saya
lupa apa percakapan yang terjadi di dalamnya dan seorang teman saya yang paling
konyol di antara yang lain berkata dalam bahasa jawa yang kalau diartikan
kurang lebih akan berbunyi begini “ Anak SMA kok bawaannya HT?” dan seperti
biasanya, saya memilih diam ketika mendengar hal-hal yang agak miring atau
lebih tepatnya tidak biasa di kalangan sebaya, yang ditujukan pada saya.
Ya, apa sih menariknya bergelut di radio frekuensi?
Mungkin lebih tepatnya lagi saya menggunakankata bermain dan
bukan bergelut, mengapa?
Karena saya lebih menemukan kesenangan daripada sebuah tuntutan
di sana.
Di radio frekuensi, satu semboyan yang saya gunakan adalah “Bersaudara
di udara, bersahabat di darat” yang kalau saya artikan sendiri akan berbunyi “kita
akan memperoleh banyak saudara bila sudah mengudara, dan akan memperoleh
sahabat bila sudah copy darat alias
bertemu langsung.
Semboyan ini agaknya banyak mengandung kebenaran karena pada
saat kita bermain di radio frekuensi, kita akan menemukan rekan dimana-mana.
Perlu diketahui disini bahwa hampir di setiap daerah baik perkotaan maupun di
pelosok desa pasti ada yang memiliki perangkat ini dan juga sering mengudara. Hal
tersebut akan membantu kita, contohnya saja, ketika kita salah jalan ataupun
tidak menemukan suatu tempat yang akan kita tuju, langsung saja kita bisa
menanyakannya lewat media ini. Contoh lain adalah pada saat kita akan
bepergian, kita bisa mengetahui kemacetan terjadi di mana dan bisa menanyakan
jalan alternatifnya. Hal lain yang dapat
kita ambil manfaatnya adalah ketika kita sedang menggunakan jalur suatu
frekunsi, kita akan di latih untuk tertib dan mengharagi orang lain, karena
kita harus menggunakan frekuensi secara bergantian, maksudnya ketika lawan
bicara kita sedang berbicara, kita akan mendengarkan terlebih dahulu apa yang
beliau katakan dan sebaliknya ketika beliau selesai berbicara, maka ia akan
mendengarkan apa yang kita katakan. Tetapi tidak menutup kemungkinan, ketika
dalam keadaan darurat, kita bisa menyela, bahkan menumpuk seseorang yang sedang
transmit, walaupun harus memperhatikan tata tertib berfrekuensi.
Begitulah sedikit yang bisa saya jelaskan mengenai manfaat
radio frekuensi. Semoga bermanfaat bagi pembaca.

0 komentar:
Posting Komentar